Platform Funding Energi Terbarukan?

Oleh: Nafi Putrawan

Sektor Energi Baru Terbarukan – EBT (renewable energy) mulai disadari oleh pemain financial dan investment. Di tulisan sebelumnya saya telah membahas bahwa Europe Investment Bank (EIB) per tahun 2021 sudah menyetop seluruh pendanaan (funding) untuk energi berbasis fosil. J.P Morgan sebagai bank investasi bahkan akan memfasilitasi sebanyak $200 miliar dalam “clean financing project” hingga tahun 2025.

Alternative Investment Funds: Berbagai Sumber Pendanaan Alternatif yang Perlu Diketahui

Seminggu lalu rekan direksi saya di industri migas rapat akhir tahun perusahaan publik nya. Begitu juga dengan emiten lain yang tentunya bulan November merupakan bulan tersibuk untuk pembahasan strategi korporasi dan budgeting untuk satu tahun ke depan. Ia bercerita, bahwa Europe Investment Bank (EIB) sudah berhenti untuk pembiayaan perusahaan di bidang fossil-fuel yang dia lakukan mulai tahun 2021. EIB bukanlah bank pertama yang melakukan kebijakan tersebut.

Perusahaan dengan Valuasi $49 Miliar ini sedang Kehabisan Dana

Perusahaan co-working space, WeWork, dengan valuasi sebesar $49 miliar saat ini sedang kesulitan mencari pendanaan baru. Bukan dari soft-funding Softbank, melainkan cara yang lebih berisiko — debt financing.

Agar operasional tetap berjalan, WeWork membutuhkan dana tambahan sekitar $6 miliar. Namun, private investor tidak percaya sepenuhnya lagi kepada WeWork. Dana tersebut diharapkan bisa didapatkan dengan cara menambah investasi dari Softbank. Ternyata, angin segar tidak tertuju ke rencana itu.

Financial Resource Summary

Saat bertemu klien, seringkali mereka memiliki masalah yang berbeda dalam fundraising. Ada yang berbentuk proyek, ada yang berbentuk ingin ekspansi perusahaan. Atau hanya sekadar mencari modal kerja. Model sumber pendanaan ada berbagai macam. Diantaranya saya ingin jabarkan sedikit disini. Semoga mudah dipahami.

Beradab

Ia turun dari mobil Benz SLK miliknya, saya melihatnya dari dalam cafe. “Hai, selamat datang, senang bertemu Anda. Silahkan duduk.” Ia datang bersama partnernya dengan wajah yang berseri.

“Bagaimana harga minyak yang kami tawarkan?”, ia bertanya ke saya. “Harga Anda masih masuk akal. Hal selanjutnya adalah spesifikasi dan delivery. Kami ingin pastikan minyak Anda terkirim dengan baik. Tim saya akan mereview terlebih dahulu spek yang Anda berikan. Jika oke, purchase agreement diterbitkan oleh tim saya.” Saya katakan.

Yang Terbaik

“Temui saya di financial club Ritz-Carlton saat dinner, saya punya tugas untuk Anda”. Teman saya datang tepat waktu. Ia memasuki restaurant. Dua orang menyambutnya dengan hangat, sepasang suami-istri yang datang lagi ke Indonesia setelah menetap 20 tahun di Singapura.

Ia diajak memesan menu apapun yang ia suka. “Kamu tahu, saya telah membantu kamu delapan tahun di bisnis equity firm. Sampai menjadi pemegang holding dua bulan lalu. Saya tidak tahu harus bercerita ke siapa lagi selain ke kamu. Hanya kamu orang yang bisa saya percaya, di luar keluarga saya”.

Motion Tracking Pemustaka dengan Teknologi Heatmap

Bukan hal yang aneh bahwa untuk bertahan hidup, perpustakaan perlu mensiasati dirinya dengan tren kekinian. Selayaknya malam Minggu diisi dengan hiburan, namun kali ini berbeda. Saya dan Reza Mahdi berbincang apa topik yang selanjutnya perlu kami bahas dalam tren di dunia perpustakaan di bilangan lantai dua McD Sarinah, Jakarta.

Pegiat pustakawan sudah mulai membuat topik-topik yang berkaitan dengan revolusi industri 4.0 hingga disruption — yang dipopulerkan oleh Christensen, lalu baru diterbitkan dalam bahasa Indonesia belakangan ini oleh Prof. Rhenald Kasali — yang menjadi tema Konferensi KPDI 2018. Memang sudah seharusnya perkembangan ilmu perpustakaan berkolaborasi dengan multidisiplin begitu.

Harga Tinggi Produk dan Industri yang Diolah

Produk, yaitu barang atau jasa, akan selalu memiliki nilai dan harga yang lebih tinggi daripada barang mentahnya (raw material) jika diolah menjadi produk turunannya. Jika buah semangka dijual dengan harga Rp. 15.000/buah, maka jus semangka bisa dijual mencapai 2x lipat dari harga tersebut. Kemudian jika jus semangka diproduksi dengan kemasan premium dan branding yang kuat, maka harganya bisa melonjak menjadi 5x lipat dari harga sebuah semangka. Semakin suatu produk dimasukkan nilai-nilai kekayaan intelektual, maka harga produk olahan bisa menjadi lebih tinggi.

Sebuah perseoran yang pernah kami analisa menambang pasir Zirkon (Zircon Sand), yaitu sejenis pasir yang menjadi bahan baku dari marmer. Harga pasir ini jika dijual dipasaran sebesar USD $100/ton-nya. Setelah kami melakukan riset, pasir tersebut jika diolah menjadi material pendukung radioaktif untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang harga per ton mencapai ratusan juta.

Apakah harga tinggi tersebut selalu berdampaknya ke harga produk saja? Ternyata dampak dari pengolahan yang baik bisa diterapkan untuk meningkatkan value dari sebuah perusahaan, bukan hanya produk. Value dari Uber ($68 billion) dan Didi Chuxing ($56 billion) menjadi sangat besar karena mereka mampu mengolah perusahaan yang pada umumnya berbasis transportasi konvensional menjadi berbasis digital (disruption). Mereka tidak menitikberatkan kepada produk yang mereka jual dengan harga layanan yang tinggi membebankan konsumen, namun dengan kekayaan intelektual yang mereka miliki; paten, SDM, service, aplikasi.

Perusahaan dengan industri teknologi informasi misalnya, ketika ingin melakukan pendanaan di tahap awal, faktor-faktor yang dilihat oleh para seed/angel investor bukan hanya dari back-end (teknologi) apa yang mereka pakai, namun latar belakang founder, total addressable market (TAM), market share potential, virality, sampai jumlah user. Variabel-variabel dari setiap investor bisa berbeda, namun umumnya melihat dari latar belakang pendidikan, motivasi, atau kegigihan dari para founder. Berbeda halnya ketika akan meningkat ke pendanaan lanjutan ke tahap Private Equity, maka yang dilihat adalah variabel EBITDA, cash flow, dan IRR dari perusahaan. Inilah due-diligence yang dilakukan oleh investor untuk menentukan nilai value perusahaan yang bisa dibeli atau dalam konteks ini yaitu pendanaan. Hype-tech seperti blockchain, AI, hingga biotech menempati peringkat tertingi dalam memberikan value perusahaan.

Ada ratusan sektor industri yang menunggu untuk ‘diolah’, yang bahkan tidak terlihat terlalu seksi tetapi dampaknya jangka panjang untuk masyarakat. Education technology, seperti LIBex yang mencoba mentransformasi perpustakaan konvensional menjadi co-working space yang bekerjasama dengan puluhan NGO, atau Reblood yang membantu menyalurkan informasi donor darah yang telah bekerjasama dengan PMI dan Google Venture. Semakin sebuah perusahaan bisa memiliki hasil olahan berkualitas yang ditawarkan (tangible maupun intangible) maka berbanding lurus dengan peningkatan harga sebuah produk atau korporasi.

Produk, yaitu barang atau jasa, akan selalu memiliki nilai dan harga yang lebih tinggi daripada barang mentahnya (raw material) jika diolah menjadi produk turunannya. Jika buah semangka dijual dengan harga Rp. 15.000/buah, maka jus semangka bisa dijual mencapai 2x lipat dari harga tersebut. Kemudian jika jus semangka diproduksi dengan kemasan premium dan branding yang kuat, maka harganya bisa melonjak menjadi 5x lipat dari harga sebuah semangka. Semakin suatu produk dimasukkan nilai-nilai kekayaan intelektual, maka harga produk olahan bisa menjadi lebih tinggi.

High Prices of Processed Products and Industries

Products, ie goods or services, will always have a higher value and price than raw materials if processed into derivative products. If the watermelon is sold at IDR. 15.000/each, then watermelon juice can be sold reach 2x of that price. Then if watermelon juice is produced with premium packaging and strong branding, then the price can jump to 5x the price of a watermelon. The more a product is inserted into the values of intellectual property, then the price of processed products can become higher.

A company that we have analyzed to mine Zircon sand (Zircon Sand), which is a kind of sand that becomes the raw material of marble. The price of this sand if sold in the market of USD $ 100 / ton it. After we do research, the sand if processed into radioactive support material for Nuclear Power Plant (NPP) that the price per ton reaches hundreds of millions rupiahs.

Is the high price always impacting the product price alone? It turns out that the impact of good processing can be applied to improve the value of a company, not just the product. The value of Uber ($ 68 billion) and Didi Chuxing ($ 56 billion) became very large as they were able to cultivate conventional, conventional transportation-based companies into digital (disruption). They do not emphasize the products they sell with the high service prices charge consumers, but with their own intellectual property; patents, human resources, services, applications.

Companies with the information technology industry, for example, when looking to fund early, factors seen by seed/angel investors are not only from what back-end they use but the founder’s background, total addressable market (TAM ), market share potential, virality, to the number of users. The variables of each investor can be different but generally see from the background of education, motivation, or persistence of the founders. Unlike the case when it will increase to the advanced funding to the Private Equity stage, then what is seen is the variable EBITDA, cash flow, and IRR of the company. This is the due diligence done by the investor to determine the value of the company’s value that can be bought or in this context of funding. Hype-tech such as blockchain, AI, until biotech is ranked highest in providing company value.

There are hundreds of industrial sectors waiting to be ‘processed’, which does not even look too sexy but has a long-term impact on society. Education technology, such as LIBex that tries to transform conventional libraries into co-working space in collaboration with dozens of NGOs, or Reblood that helps channel blood donor information that has been working with PMI and Google Venture. The more a company can have quality products offered (tangible and intangible) is then directly proportional to the increase in the price of a product or corporation.

Products, ie goods or services, will always have a higher value and price than raw materials if processed into derivative products. If the watermelon is sold at IDR. 15.000/each, then watermelon juice can be sold reach 2x of that price. Then if watermelon juice is produced with premium packaging and strong branding, then the price can jump to 5x the price of a watermelon. The more a product is inserted into the values of intellectual property, then the price of processed products can become higher.